5 Ciri Khas Imlek yang Memiliki Makna Mendalam: Angpau, Barongsai hingga Kue Keranjang

Berikut ciri khas Imlek yang memiliki makna mendalam, simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini. Kata Imlek bukanlah nama dari perayaan tahun baru Tiongkok yang sebenarnya. Ternyata, kata ini diambil dari Bahasa Hokien dan hanya diketahui serta digunakan oleh orang Indonesia.

Bagi orang barat, perayaan ini lebih dikenal dengan nama Chinese New Year . Sementara itu, orang Tiongkok menamainya "Guo Nian" atau "Xin Jia" yang berarti lewati bulan atau bulan baru. Dalam perayaan Imlek, tentu ada beberapa ciri khas yang ditemui, beberapa di antaranya adalah angpao, barongsai, dan kue keranjang.

Namun, tidak semua masyarakat Indonesia mengetahui makna mendalam yang terkandung dari ciri khas tersebut. Orang Tionghoa mempunyai kepercayaan bahwa setiap angka memiliki arti tersendiri dan bisa membawa keuntungan. Saat perayaan Imlek, mereka akan menghindari penggunaan angka angka kurang bagus seperti angka "4".

Di sisi lain, angka "5" dipercaya bagus karena dianggap sebagai angka yang memasukkan semua elemen elemen penting seperti, emas, kayu, tanah, air, dan api. Sementara itu, angka "8" merupakan salah satu angka favorit karena melambangkan tiada habisnya, seperti kemakmuran yang tidak akan habis. Begitu juga dengan angka "9" karena dianggap sebagai angka tertinggi.

“Kita juga akan menghindari menggunakan angka '3' seperti halnya menyiapkan tiga macam makanan di rumah karena takut dianggap pelit. Jadi bisa dibilang lima adalah minimalnya," tutur Pakar Kuliner Tionghoa dari Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia, Aji Chen Bromokusumo, dikutip dari . Ciri khas Imlek selanjutnya adalah banyak hal yang berwarna merah seperti lentera merah, cheongsam (baju tradisional) berwarna merah, dan angpao merah. Masih dari sumber yang sama, Aji Chen mengatakan bahwa warna merah adalah warna favorit orang Tionghoa karena dianggap membawa kebahagiaan, kemakmuran, dan hal hal positif lainnya.

Amplop merah yang disebut angpao berasal dari kata "Hong Pao" yang artinya kantung merah. Hal ini merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh orang Tionghoa. Sebagai informasi, hanya anak anak dan seseorang yang belum menikah yang boleh menerima angpao.

Sebaliknya, bagi yang sudah menikah harus memberikan angpao pada saudara saudaranya yang belum menikah. Berdasarkan legenda yang telah ada pada zaman dahulu seperti yang tertulis pada laman , orang orang Tiongkok percaya bahwa barongsai bisa mengusir bahaya dan kekuatan gelap. Hingga saat ini, barongsai menjadi ciri khas saat perayaan Imlek sebagai kepercayaan bahwa barongsai bisa mengusir nasib buruk.

Dengan begitu, hanya keberuntungan, kebijaksanaan, dan umur panjang saja yang datang untuk semua orang. Sebagai informasi, ternyata nama barongsai merupakan akulturasi kebudayaan Tionghoa dan Indonesia. Kata "barong" berasal dari kesenian khas Indonesia, sedangkan kata "sai" merupakan kata dalam bahasa Hokkian yang artinya singa.

Nama barongsai ini juga hanya disebut di Indonesia. Sementara itu, barongsai dalam bahasa Inggris disebut sebagai lion dance yang artinya tarian singa. Terdapat lima jenis barongsai yang berbeda warna, yaitu kuning, hitam, hijau, merah, dan putih.

Menurut budaya Tionghoa, lima warna itu melambangkan lima unsur kehidupan. Warna kuning melambangkan bumi, hitam melambangkan air, hijau melambangkan kayu, merah melambangkan api, dan putih melambangkan logam. Dikutip dari , kue keranjang mempunyai nama asli "nian gao" yang berarti tahun dan kue.

Di Tiongkok, kue keranjang dijadikan sebagai hidangan pembuka pada perayaan tahun baru Imlek. Konon, menyantap kue keranjang sebagai hidangan pembuka membuat seseorang mendapat keberuntungan. Kue keranjang dibuat menggunakan tepung ketan yang mempunyai sifat lengket.

Hal ini mempunyai makna persaudaraan yang begitu erat dan menyatu. Rasa manis dari gula menggambarkan rasa suka cita, menikmati kebersamaan, dan kegembiraan. Jeruk adalah buah keberuntungan yang harus ada menjelang Tahun Baru Imlek.

Dilansir , jeruk dalam bahasa Mandarin adalah júzi yang pelafalannya dekat dengan kata ji . Sebagai informasi, Ji dalam bahasa Mandarin berarti keberuntungan. Karena memiliki kemiripan pelafalan dengan kata júzi , maka jeruk menjadi simbol keberuntungan.

Selain itu, jeruk oranye atau jeruk mandarin juga menyimbolkan warna emas. Warna emas ini menggambarkan harapan bahwa sepanjang tahun ke depan akan dilingkupi keberuntungan dan kesejahteraan. Perlu diketahui, warna emas dan warna merah sama sama menyimbolkan keberuntungan dalam budaya Tionghoa.

Oleh karena itu, mayoritas aksesoris memiliki warna kombinasi merah dan emas setiap perayaan Imlek. Selain itu, rasa jeruk yang asam, manis, sedikit getir, dan pahit juga mengandung makna mendalam. Rasa jeruk tersebut sebagai simbol bahwa kehidupan tidak pernah lepas dari rasa manis, asam, pahit, dan getir.

Tidak hanya dari rasa, bentuk jeruk juga memiliki makna, yaitu kesempurnaan karena berbentuk bulat. Bentuk bulat adalah simbol dari roda kehidupan yang terus berjalan. Diharapkan, rezeki dan kesejahteraan terus menyertai di kehidupan tahun ini.

Menurut tradisi Tionghoa, jeruk juga menyimbolkan kebahagiaan dan sukacita yang diharapkan bisa dirasakan orang yang merayakan Imlek. Fakta lainnya adalah pohon dari jeruk mandarin juga akan dipajang di depan rumah atau ruang tamu sebagai pemanggil keberuntungan di tahun baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.