Gerakan NII Sudah Menyebar di Masyarakat, Moeldoko Minta Masyarakat Hati-hati agar Tak Terpengaruh

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko memberikan tanggapannya terkait adanya gerakan kelompok Negara Islam Indonesia (NII). Moeldoko mengatakan, saat ini gerakan NII telah masuk di tengah masyarakat. Menurut Moeldoko, NII memberikan pengaruhnya ke masyarakat dengan menjadikan para ASN hingga mahasiswa untuk jadi sasarannya.

Termasuk para aparat keamanan, melalui berbagai institusi, serta pengusaha. "Jangan salah, itu sudah berada di tengah tengah kita. Siapa yang menjadi unsur unsur yang terpengaruh? Melalui ASN, melalui aparat keamanan, melalui mahasiswa, melalui berbagai institusi dan termasuk pengusaha," kata Moeldoko dilansir tayangan video di kanal YouTube Kompas TV, Minggu (24/4/2022). Perlu diketahui NII merupakan gerakan ideologis yang awalnya muncul dibawah pimpinan Kartosoewirjo pada 1949.

Kemudian NII berkembang di luar Jawa dengan dipimpin oleh Kahar Muzakar. Moeldoko menegaskan, NII ini tidak pernah mati dalam melanjutkan garis perjuangannya. Namun mereka saat ini memiliki pola gerakan dan strategi yang berbeda dibandingkan era era sebelumnya.

Salah satunya dengan melakukan pendekatan perebutan hati dan pikiran para sasarannya. "Sekarang gerakan yang dia kembangkan adalah perebutan heart (hati) and mind (pikiran)," terang Moeldoko. Moeldoko menilai, pendekatan perebutan hati dan pikiran, seperti baiat dan doktrin ini termasuk cukup sulit untuk diatasi.

Karena NII cenderung melakukan kamuflase agar tidak dikenali, sehingga membuatnya leluasa untuk memengaruhi orang lain. "Dan lebih dahsyat lagi, dia bergerak dengan cara menyembunyikan diri, Taqiyyah. Dia kamuflase agar tidak dikenali dari awal sehingga dia memiliki keleluasaan untuk memengaruhi orang lain. Hati hati, ada di tengah tengah kita," tegasnya. Oleh karena itu, Moeldoko meminta masyarakat untuk lebih berhati hati dan meningkatkan kewaspadaannya.

Agar nantinya masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan pergerakan dan strategi yang dilakukan NII. "Jangan ada lagi kita tidak tahu bahwa sebelah kita ternyata teroris, sungguh mengerikan," pungkas Moeldoko. Diwartakan sebelumnya, Tim Densus 88 Antiteror Polri mengungkap bahwa kelompok organisasi terlarang Negara Islam Indonesia (NII) ternyata merencanakan adanya kerusuhan seperti yang terjadi tahun 1998 agar terulang lagi.

Fakta itu terungkap berdasarkan dokumen yang disita saat penangkapan 16 tersangka teroris NII di Sumatera Barat. Dokumen tersebut merupakan notulensi atau catatan pertemuan para anggota NII. Kabag Operasi Densus 88 Antiteror Kombes Aswin Siregar mengatakan bahwa kerusuhan tersebut nantinya dimanfaatkan kelompok NII untuk dapat melengserkan pemerintah.

Nantinya, NII berkeinginan membentuk Indonesia dengan paham Daulah Islam. "Salah satunya yang mereka sampaikan adalah mereka akan buat kekacauan atau chaos. Mereka kalau yang disampaikan ya jika terjadi seperti 98 ya," kata Aswin kepada wartawan, Sabtu (23/4/2022). Namun demikian, kata Aswin, penyidik Densus 88 masih mendalami rencana NII tersebut.

Adapun fakta itu masih temuan awal penyidikan yang dilakukan satuan Antiteror berlambang kepala burung hantu tersebut. "Ya masih mendalami apa yang mereka maksud itu kan ya. Ini merupakan keterangan awal dari penyidikan. Penyidikan baru berjalan di awal ini. Kalau dari hitungan waktu, proses penyidikan ini masih di awal awal," jelas Aswin. Lebih lanjut, Aswin mengharapkan masyarakat untuk bersabar mengenai proses penyidikan yang tengah dilakukan oleh Densus 88.

"Jadi saya kira sabar lah memberikan kesempatan kepada penyidik untuk mendalami fakta fakta dan keterangan yang masih bentuk puzzle lah ya," ujarnya. Sekadar informasi, Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap setidaknya 16 tersangka terorisme jaringan Negara Islam Indonesia (NII) di Sumatera Barat (Sumbar) pada Jumat (25/3/2022) lalu. Tak lama berselang, Densus kembali menangkap 5 orang tersangka teroris jaringan NII lainnya di daerah Tangerang Selatan, Banten pada Minggu (3/4/2022).

Adapun para tersangka diduga menginginkan untuk mengubah ideologi Pancasila dengan syariat Islam. Pada saat yang sama, mereka juga aktif merekrut anggota baru dari kalangan anak anak di bawah umur. Selain itu, para tersangka itu juga aktif melakukan kegiatan i'dad atau latihan ala militer secara rutin lewat berbagai kegiatan.

Mereka juga berniat menggulingkan pemerintah dengan memanfaatkan situasi jika terjadi kekacauan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.